Total Tayangan Halaman

Rabu, 03 April 2013

PENYESALAN ANDIK


        “Dapat!” Seru Andik gembira, ketika gundunya mengenai kumpulan gundu di tengah-tengah lingkaran putih dari kapur tulis. Matanya berputar cepat mencari gundu lain untuk dimatikan. Ditembakkannya gundu ke arah gundu Rian. Dan … peletak! Tepat mengenai sasaran. Gundunya sekarang mendekati letak gundu Irfan. Tidak sulit untuk mematikannya. Tinggal gundu tisa dan Rosyad yang harus dimatikan Andik. Bila dua gundu itu dapat dimatikannya, maka sepuluh gundu akan menjadi miliknya. Andik cukup lihai mengatur strategi agar gundunya dapat menyapu bersih gundu lawannya.
            “Andik …! Pulang….!” Suara Bu Muhtar memanggil Andik.
            Andik mendengarnya. Tetapi matanya tak berpaling. Tatapannya tajam ke arah gundu Tisa. Dan … pletak! Lagi-lagi gundu Andik tepat mengenai sasaran.
            “Andik…! Andik…!Andik…!”
            Andik tak menyahut. Tapi ia mendengar suara ibunya dengan jelas.
            “Aduh, kemana sih? Andik…! Tolong Umi, Nak!” Suara uminya terdengar putus asa dan kesal.
            Konsentrasi Andik agak buyar. Padahal tinggal satu gundu lawan yang harus dimatikannya. Andik menarik nafas. Dia memusatkan kembali konsentrasinya. Saat tangannya hendak menembakkan gundunya ….
            “Andiiiiik…!” suara Bu Muhtar keras.
            Dan ….
            Pletak! Gundu Andik melenceng!
Andik berdiri kesal. Mukanya merah memberengut. Tangannya mengepal. Kakinya dijejakkakan ke tanh dengan keras. Matanya tak berkedip melihat gundunya yang masih bergerak mendekati gundu Rosyad. Dan perlahan berhenti sekitar 10 cm dari gundu Rosyad.
“Hhhhhhh… gara-gara Umi nih! Ah ….” Keluhnya kecewa. Tangan kirinya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tangan kanannya mengambil delapan gundu dari kantong celananya.
            Melihat gundu Andik tidak dapat mematikan gundunya, Rosyad terlonjak gembira. Sementara itu teman-teman Andik yang lain ikut bertepuk tangan.
            “Ayo, serahkan gundu itu padaku! Ha … ha … ha … semuanya sekarang menjadi milikku,” seru Rosyad seraya berjongkok mencari posisi yang enak untuk mematikan gundu Andik.
            “Andik…!Andik …!” Seru Bu Muhtar lagi.
            “Huuhhh ….!” Andik melempar kedelapan gundu yang ada di tangannya. “Nih … aku kembalikan gundu kalian!” Diambilnya gundu yang akan dimatikan Rosyad dan berlari meninggalkan teman-temannya yang masih tertawa.
            “Andik …!”
            “Iya …Umi!” Andik menjawab dengan kencang.
            “Hei! Andik engkau curang! Mana gundunya satu lagi! Aku menang, ayo simpan lagi gundumu di tempatnya semula. Kalu kamu nggak menyimpannya, kamu curang! Andik… kembali!” Rosyad berteriak-teriak setelah menghitung gundu yang dilemparkan Andik hanya ada delapan. Harusnya sembilan dengan pasangan Andik. Tapi Andik tidak memberikannya. Andik berhenti berlari dan berbalik. Saat Andik hendak bicara ….
            “Andik…!”
            “Iya … iya….!” Andik menjawab panggilan Bu Muhtar. Matanya menatap teman-temannya. “Aku nggak kalah, aku juga nggak curang. Aku dipanggil umiku.”
            “Hei Andik! Kamu curang! Harusnya kamu berikan gundu pasanganmu kepada Rosyad!” Kata Iwan dan Irfan.
            “Andik ….! Andik ….!”
            “Ya ….!” Parau Andik menjawab. Air matanya hampir keluar. Dia tidak rela kalau harus menyerahkan gundunya begitu saja kepada Rosyad. Tapi Uminya terus memanggil. Andik tidak mempunyai kesempatan lagi.
            “ini!” Dilemparkannya gundu pasangannya ke arah Rosyad. Tanpa berkata apa-apa lagi Andik berbalik dan berlari kembali menuju rumahnya.
            Dari jauh Andik dapat melihat uminya mencari-cari sambil mememgangi tangan Arif, adiknya. Andik sudah tahu, pasti Arif minta jajan, di tangan Arif tergenggam uang ribuan.
            “Andik, Andik…! Kamu dipanggil kok lama banget, ke mana saja. Ayo tolong antar Arif ke warung Ceu Mumun.” Bu Muhtar memberikan tangan Arif untuk dituntun Andik.
            Andik tidak berbicara. Diambilnya tangan Arif, lalu dituntun menuju warung Ceu Mumun. Mukanya masih cemberut. Sampai di warung Andik menyorongkan tubuh Arif untuk membeli makanan yang diinginkannya. Arif diam menunggu Andik. Melihat Andik diam saja, Arif mulai merenggek.
            “Ka…kak… … Arif mau itu.” Tangan Arif  menunjuk Chiki Ball.
            “Yang ini?” Andik memegang Chiki Ball yang ditunjuk adiknya. Arif menggeleng. Andik menunjuk maknan yang ada di sebelahnya lagi. Arif menggeleng lagi. Andik kesal. Dipegangnya tangan Arif.
            “Kamu mau yang mana? Cepetan! Hhhh…..!” Tangan Andik mencengkram tangan Arif. Arif menangis kesakitan.
            “Umiii… umiii … Kakak jahat…” Arif mulai menangis.
“Eh, Andik! Adiknya jangan dimarahin.” Ceu Mumun melarang Andik yang
hampir membentak Arif.
“Arif, mau apa sayang?” Ceu Mumun bertanya kepada Arif. Arif menunjuk biskuit kesukaannya. Andik membelalak.
“Ehh, nggak boleh yang itu!” Andik membentak Arif
Ceu Mumun mengambil biskuit dan diberikan kepada Arif. Andik mengambilnya dari tangan Arif dan dikembalikan kepda Ceu Mumun.
“Maaf  Ceu Mumun, uangnya nggak cukup.”
“Nggak apa-apa Andik. Biar nanti Ceu Mumun yang mengatakannya kepada Umi kamu.” Ceu Mumun memberikan kembali biskuit itu kepada Arif.
“Makasih Ceu.” Andik membalikkan badannya sambil kembali menuntun Arif untuk pulang. Hatinya semakin kesal. Ia merasa semua orang memperhatikan adiknya. Sedangkan dirinya selalu direpotkan dan diacuhkan. Andik menghentak-hentakkan tangan Arif yang dituntunnya.Sampai akhirnya ….
Pada satu hentakan, tangan Arif terlepas dari tangan Andik. Arif terjatuh tertelungkup. Kepalanya membentur ujung salah satu undakan dan menggelinding ke bawah.
“Umiiiiiii!” Arif menjerit kesakitan. Lalu …. Diam terlentang dengan darah bercucuran di keningnya.
Andik  berlari dan memeluk tubuh adiknya yang diam.
“Arif! Ariiiif… bangun!” Andik menggoyang-goyangkan tubuh Arif.
Arif diam tak bergerak. Andik ketakutan.
“Umii! Umiiiii…!” Andik berteriak memanggil uminya. Tetapi tak ada yang datang. Andik mulai panik. Andik mulai menangis. Diletakkannya tubuh Arif dan berlari pulang.  Sepanjang jalan Andik berteriak-teriak memanggil uminya. Sampai di depan pintu rumah, Andik terjatuh.
“Umiii!!! Arif!” Bu Muhtar keluar.
Andik memegang kaki uminya.
“Umiii… A … rif … Mi!” Andik berbicara terengah-engah.
“Kenapa Arif Ndik. Ayo kamu berdiri dulu.” Bu Muhtar membangunkan Andik.
“Nah, sekarang tarik nafas pelan-pelan.” Bu Muhtar menyuruh Andik mengatur nafasnya. Andik tak peduli lagi yang dikatankan uminya. Tangannya menunjuk ke arah Arif ditinggalkann dalam keadaan pingsan. Air matanya bercampur dengan keringat yang mengalir dari kedua matanya.
Bu Muhtar merasa heran dengan sikap Andik. Dia menengok ke arah telunjuk Andik.
“Mana Arif?” tanyanya setelah sadar Arif tidak bersama Andik.
Andik kembali menunjuk ke tempat Arif terjatuh.
Bu Muhtar masih belum mengerti tentang apa yang terjadi. Tetapi ia segera berlari menuju ke arah yang ditunjukkan Andik.
Andik mengikutinya tertatih-tatih. Saat sampai di tanjakkan Bu Muhtar melihat ke bawah, tempat Arif tertelungkup dengan darah bercucuran.
“Ariiiifff!!!” Serunya sambil berlari menghampiri Arif.
Dipegangnya nadi Arif. Bu Muhtar lega. Karena Arif masih hidup. Segera dipangkunya Arif. Saat berbalik dia melihat Andik. Bu Muhtar tidak berkata apa-apa. Berhenti sebentar lalu berlari lagi. Bu Muhtar tidak membawa Arif ke rumah, tetapi ke rumah Pak rahmat yang memiliki mobil. Andik yang mengikutinya di belakang tidak tahu apa yang dikatakkan uminya. Andik hanya melihat uminya naik ke dalam mobil dan pergi tanpa memperdulikannya lagi.
Andik bingung. Andik kembali ke rumahnya sambil terisak-isak.
*****
Maghrib sudah berlalu. Andik baru saja selesai melaksanakan salat. Tiba-tiba Andik mendengar tangis Aisyah, adiknya. Andik lari ke kamar dan mengendongnya. Aisyah masih terus menangis. Andik bingung. Ia berlari ke dapur. Dilihatnya botol susu yang belum ditutup, masih hangat. Ditutupnya botol itu dan diberikan kepada Aisyah. Aisyah menghirup susunya dengan lahap. Tak berapa lama susu itu habis, Aisyah  berkeringat, matanya terpejam. Andik mengayun-ayunkan digendongannya. Setelah yakin Aisyah sudah tertidur, Andik menidurkan Aisyah di kamar.
“Kring! Kring!” tiba-tiba suara telepon berbunyi.
Andik mengintip keluar kamar. Keadaan sudah mulai gelap. Lampu belum ada yang dinyalakan. Tiba-tiba Andik merasa ketakutan.. Ditekannya tombol lampu kamar yang dekat dengan tangannya.
“Tap!” Bunyi saklar lampu terdengar nyaring. Tapi di dalam kamar tetap gelap. Andik mengembalikan saklar ke posisi  semula. Tetap gelap. Ditekannya lagi, juga tetap gelap.
“Kring! Kring!” telepon kembali berbunyi. Andik berlari ke luar menuju saklar lampu ruang tengah.
“Tap!” juga tidak menyala.
“Kring! Kring!”
Andik berlari menghampiri telepon.
“Hallo!” Suaranya bergetar menahan rasa takut.
“Hallo!” Andik berteriak setengah putus asa karena tak ada suara yang menyahut.
“Tut! Tut! Tut!” Telepon berbunyi tanda sudah ditutup. Andik kesal.
Andik berlari ke ruang tamu, dicobanya menyalakan saklar lampu.
“Tap!” kembali tidak menyala.
Andik sudah tidak tahan lagi. Ia berlari ke luar. Semua rumah tetangga terang benderang. Cepat Andik memeriksa sekering Andik memeriksanya. Dan … ternyata,                                  turun.
“Ahhhh …  Alhamdulillah.” Andik menarik napas panjang. Dinyalakan semua ruang depan, luar, dan kamar.
“Kring! Kring! Kring!” Suara telepon berbunyi lagi. Andik berlari untuk mengangkatnya. Peluh kembali bercucuran di dahinya. Dia mengusap dengan punggung tangannya.
“Tut … tut… tut ….” Telepon kembali terputus sebelum Andik sempat berbicara dengan suara di depannya.
 “Krrrk … krrrrkk….” Perut Andik terdengar berbunyi. Andik melengkungkan badannya untuk menahan rasa lapar yang mulai memutar ususnya.
“Gog! Gog! Gog!” Anjing liar di belakang rumah menggonggong sesuatu. Andik terkesiap. Bulu kuduknya berdiri. Keringat dingin sekarang mulai muncul menggantikan peluh yang tadi bercucuran.
 “Klik!” Andik meloncat ke belakang. Suara pintu  terdengar aneh di telinga Andik.
“Kkkrrrk … kkrrkkk.” Kembali perutnya berbunyi.
Andik menuju dapur. Masih gelap. Andik belum sempat menyalakan lampu.
“Tap!’ lampu menyala, tapi….
Andik melihat bayangan putih berkelebat terlihat dari kaca dapur.
“Brraashhk!” sesuatu jatuh ke rmpun bambu yang ada di belakang rumah.
Sekejap Andik melupakan rasa laparnya. Ia berlari ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamar. Tampak Aisyah masih tidur. Tangan Andik mulai dingin. Dengan cepat rasa dingin menyergap ke seluruh tubuhnya. Anangan putih terus melintas di depan matanya. Andik menutup matanya, tak bisa. Diambilnya selimut dan ditutupkan ke suruh tubuhnya sampai kepala.
“Umi … Umi… Umi.  Hik … hik…hik.” Terdengar isak dari balik selimut. Lama-lama kelamaan isak Andik hilang menjadi dengkur halus.
*****

“Ha … ha… ha… bagus … bagus! Senang kan kamu menjatuhkan Arif? Kamu tidak usah menuntun dan mengantarnya lagi! kamu dapat bermain gundu dengan tenang!” Orang dengan taring, wajah mengerikan dan berjubah hitam itu memelototkan matanya kepada Andik sambil mengayun-ayunkan sapu di tangannya. Andik duduk di pojok ruang tengah. Dia sudah ketakutan, takut  kena gebukan sapu yang ada di tangan makhluk menyeramkan itu.
“Bagus. Aku senang melihatmu melakukannya. Dan … akan ada satu anak lagi yang tidak menyayangi adiknya. Kamu! Ha … ha… ha…!” suara tawa itu memekakkan telinga Andik. Andik menutup telingan dengan kedua tangannya. Tetap tidak dapat mencegah suara itu!
“Umi … tolong Andik, Mi… hik … hik … hik…” Andik mulai menangis lagi.
“Ha… ha… ha…! KKau pikir Umimu akan menyayangi kamu setelah apa yang kau lakukan kepada adikmu? Tidak akan! Ha…ha…ha….!” Semakin tertawa, taring makhluk itu semakin panjang.
“Ha … ha …ha…! Umimu sedang mengurus Arif adikmu. Dia tak akan menyayangi kamu lagi. Kamu sekarang akan menjadi anak buahku. Ha … ha … ha!”
“Tidak! Aku tidak mau!” Andik berteriak.
“Kalau begitu, aku akan membawa adikmu! Karena dia juga tidak akan sayang lagi kepadamu, setelah kau mencelakakannya dan membuatnya terluka parah! Ha … ha … ha …!”
“Jangan! Jangan bawa adikku! Aku sayang Arif! Aku sayang! Janagn dibawa! Jangaaannn!” Andik berteriak-teriak sambil berusaha berdiri. Tapi tidak bisa. Kakinya sangat lemas.
“Umiiii! Maafkan Andik, Mi. Andik salah! Andik tidak akan nakal lagi! Andik sayang Arif! Andik akan main mengajak Arif, Miiii!”Andik merangkak, berusaha mendekati pintu.
Tiba-tiba saja makhluk itu suda ada di depannya.
“Ha … ha … ha …! Mau ke mana anak nakal?” makhluk itu menyeringai memperlihatkan taringnya. Air liurnya yang berwarna merah dan bau nampak meleleh dari kedua sudut bibirnya.
“Pergi kau makhluk jahat! Kau tidak boleh mengambil adikku!” Andik menendang-nendangkan kakinya.
“Ha … ha … ha …! Kalau begitu kau iikut aku!” Makhluk itu memegang kedua tangan Andik dan diikat di belakang. Andik disuruh berdiri dan berjalan di depan.
“Tidaaakk! Tidak mau….! Umiiiii! Toloooooong! Andik tidak akan nakal lagi! Miiiii … Tolooongg!” Andik berteriak meminta tolong uminya.
“Ha … ha … ha …! Ini balasan untuk anak yang jahat sama adiknya sndir. Kamu akan ikut ke gua yang gelap dan disekap di sana! Ha  … ha … ha…!” Makhluk menyeramkan itu kembali tertawa terbahak-bahak memperlihatkan taringnya yang sudah sampai dagunya.. Tangannya yang berbulu lebat, hitam dan berkuku panjang terulur hendak memegang pndak Andik.
Sap! Tangan itu terasa berat di pundak Andik.
“Toloooonnng …!”  Andik berteriak, lalu ia merasa tubuhyna ringan. Andik tidak ingat apa-apa ag. Semuanya gelap.
“Andik! Bangun! Ini Umi, Nak!” Samar-samar Andik mendengar suara uminya.
“Umiii … tolong! Andik tidak mau pergi dengan makhluk seram itu. Andik takut, Miii …. Toloooong!” Andik bangun dan memeluk Bu Muhtar.
“Iya. Ini Umi mau nolongin kamu. Ayo! Sekarang baca istighhfar!” Ayo .. Astaghfirullah hal adziiimmm.” Bu Muhtar menuntun Andik untuk istighfar.
“Astaghfi…rullahal … adziiimmm….” Andik mengikuti.
“Nah, sekarang buka matamu! Ayo lihat! Tidak ada  makhluk seram. Adanya Ayah, Umi, dan Arif.”
Andik membuka matanya. Ada Umi, Ayah, dan … Arif di depannya. Perlahan-lahan dia memutarkan pandangannya mencari sesuatu.
“Ada apa Andik? Kamu mencari apa?” pak Muhtar bertanya sambil memegangi pundak Andik.
“Ada makhluk menakutkan, Ayah. Dia mau membawa Andik. Dia bilang Andik jahat. Andik tidak jahat. Andik sayang sama Arif. Andik janji tidak nakal lagi. Andik janji Ayah.” Andik menceracau. Matanya masih terus mencari.
“Umi … Andik menyesal … Miiii….” Andik menengadahkan kepalanya melihat wajah uminya. Badannya dingin karena keringat. Bibirnya masih bergetar karena takut.
“Iya … iya. Sudah. Andik jangan begini dong.” Bu Muhtar melepaskan tangan Andik.
“Andik takut … Andik nggak mau diajak pergi makhluk seram itu.”
“Iya sayang. Tidak ada apa-apa. Coba lihat mana makhluk seramnya. Umi tidak melihat? Ayo pelan-pelan. Di sini hanya ada Umi, Ayah, dan Arif.” Kata Bu Muhtar meyakinkan Andik.
Pelan-pelan Andik melepaskan pelukannya. Tiba-tiba….
“Glombrang…!” Suara panci jatuh di dapur.
“Umiiii … tolooong! Andik nggak mau pergi!”  Andik loncat dan memeluk Bu Muhtar lagi.
“Andik sayang. Itu cuma suara kucing. Tidak ada makhluk seram. Kamu pasti mimpi.”
“Tapi tadi ada, Mi. Andik takut.”
“Iya. Makhluk itu ada karena Andik takut. Lalu Andik tidak baca doa lagi tidurnya. Iya … kan?” Bu Muhtar menjelaskan.
“Andik diam saja. Dia menyelusupkan kepalanya lebih dalam lai di pelukan Bu Muhtar. Bu Muhtar mengelus kepala Andik.
“Andik, makhluk seram itu ada kalau Andik takut dan tidak membaca doa. Ayo sekarang Andik jangan takut. Umi saja tidak takut, tidak ada makhluk seram kok!” Bu Muhtar terus menenangkan Andik.
“Umi … Andik sayang sama Arif. Tadi Andik kesal karena Andik kalah main gundunya. Andik nggak jahat … Mi.” Adik masih tetap memeluk Bu Muhtar.
“Ya … sudah. Lain kali Andik tidak boleh begitu. Kalau Andik sayang sama Arif.” Pak Muhtar menatap Andik
“Andik sayang Arif, Yah.”
“Ya. Sekarang Andik  minta maaf sama Arif. Tuh Arifnya sudah diobati sama dokter.” Andik melepaskan pelukannya dari Bu Muhtar.
Perlahan-lahan Andik menghampiri Arif yang masih digendong Pak Muhtar. Dia melihat kepala Arif yang diperban.
“Arif .. maafkan Kakak ya, Rif. Kakak janji akan mengajak Arif main. Kakak sayang sama Arif. Kakak tidak akan jahat lagi sama Arif” Andik memeluk Arif. Dia mengusap-ngusap perban yang membalut kepala adiknya.
Arif membalas pelukan Andik.
“Kakak… besok ajak Arif main ya … Kak?” Kata Arif.
“Iya .. Kakak Janji. Asal Arif memaafkan Kakak.” Jawab Andik sayang.
“Tapi, Kakak jangan melepaskan tangan Arif lagi, ya Kak. Nanti Arif jatuh lagi.” Arif terus memohon.
“Iya kakak janji. Kakak tidak akan jahat lagi sama Arif.” Andik mencium kening Arif yang terbalut perban.
Andik membawa Arif ke sofa. Andik mendudukkan Arif. Diambilnya sebuah buku cerita.
Bu Muhtar dan Pak Muhtar tersenyum melihat kelakuan kedua anaknya. Pak Muhtar sudah yakin tidak ada masalah dengan Andik, ia pergi menuju kamar untuk berganti baju
“Arif, mau Kakak bacakan cerita?” Andik duduk di samping Arif.
Arif mengangguk..
“Kkrrrk … kkrrrk ….” Perut Andik berbunyi.
“Aduh!” keluh Andik, rasa lapar menyergapnya lagi.
“Mi, Andik lapar.”
            “Ya. Andik belum makan malam. Sama. Umi dan Ayah juga belum. Ayah tadi langsung ke rumah sakit dari kantor. Ayo sekarang kita makan dulu. Andik siapkan piring di meja makan ya! Umi mau mengganti baju Arif dan melihat Aisyah dulu!” Bu Muhtar seraya ke kamar untuk melihat Aisyah dan mengambil baju Arif.
            “Ya, Mi.” Andik berlalu ke dapur. Rasa takutnya sudah hilang bersamaan dengan rasa penyesalannya.

***Alhamdulillah****

Cimanggis, 12 April 2001


Imas Eva Nurviati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar