Total Tayangan Laman

Minggu, 16 Februari 2014

TA ... TA ... TA ...



TA PERTAMA

            Poligami? Yes!
Saat ini sudah sangat ramai orang membicarakan poligami dan juga melaksanakannya. Lantas berhasilkah? Ada yang berhasil ada yang tidak. Siapa yang tidak tahu Rumah Makan Wong Solo. Yang membuat terkenal bukan makanannya, tetapi karena pemiliknya yang berpoligami. Sepanjang orang makan, akan berbicara mengenai poligami dan penasaran, yang manakah wanita yang dipoligami tersebut! Beredarlah cerita sekitar poligami.
Mengapa poligami menjadi ramai, sementara bila seorang pria melakukan asusila kepada pekerja seks tidak dimalasahkan, atau memilih kawin siri (kawin di bawah tangan) agar tidak diketahui isteri pertama, public dan juga agar tetap dalam pamornya sebagai pejabat. Sehingga di akhir hayaat, masih diperebutkan beberapa wanita yang merasa pernah menjadi isterinya bahkan memiliki putera darinya.
Ak pernah berkesudahan. Mengapa dalam Alquran laki-laki boleh beristeri lebih dari satu? Karena secara sunatullah, ada yang memiliki libido tinggi sehingga menghindari fitnah, diperbolehkan poligami dengan syarat ADIL!
Bisa ADIL? Silahkan poligami….
Wanita jangan dipoligami, bagi Anda surga menanti …. In Sha Allah ….


TA KEDUA

            Akhirnya Sang Ratu, pemilik tahta berkelanjutan, pun ikut digelandang ke KPK karena terbukti korupsi setelah sebelumnya Sang Adik yang beristerikan seorang walikota digelandang terlebih dahulu. Gudangnya berisi mobil-mobil mewah. Bukan berisi barang terpakai tak terpakai seperti kebanyakan orang. Bahkan seorang artis pun terseret namanya karena mendapat hadiah mobil mewah. Harta menjadi tipudaya bagi Si Wanita yang silau dunia.
            Seorang ibu pejabat anggota DPR, memiliki balita, terpaksa harus tidur di Rutan Pondok Bambu karena kasus harta tak halal yang membelit dirinya. Tak ada yang tak tergiur dengan harta. Harta menjadi perhiasan dunia yang menjebak manusia pada silau atas kerlap-kerlip cahanya sehingga tak melihat lagi sisi tajam dari mata pisau harta yang dapat membuatnya terluka dari kesucian seorang hamba yang tawadhu.
            Harta pula yang membuat lupa bahwa semua harus dipertanggungjawabkan pada akhirnya. Sebagian di dunia dan pasri di akhirat.

TA KETIGA

            Ini Ta yang tak kalah dari dua ta terdahulu. Dalam sekejap bisa orang membuat kaya raya, dan bisa juga bisa membuat seseorang jatuh miskin karena semua harta sudah habis bahkan rumah tergadai. Yang paling parah kewarasan pun tergadai di rumah sakit jiwa.
            Walaupun demikian seperti ta sebelumnya, ta ketiga tidak membuat kapok. Tetap ramai mereka kejar. Dan bulan ini spanduk bergambar foto-foto pengejar ta menempel di mana-mana.
Orang yang sudah mendapatkan ta ini sebelumnya berusaha untuk mendapatkannya kembali, yang belum berebut mencoba dapat. Perselisihan dan permusuhan pun semakin kerap terjadi di mana-mana, baik antarorganisasi maupun intraorganisasi. Belanja spanduk pun semakin tinggi menjelang masa kampanye. Mobil-mobil menjadi gambar manusia berjalan. Gambar hidup? Pohon-pohon pun berselimut spanduk dan poster, bedera berkbar di mana-mana, dan banyak sekali bakti sosial untuk menarik minat hati pemilih.
Anda yang tadinya berteman, akan menjadi asing bila sang teman mendapat ta ketiga ini. Dengan alasan sibuk tak sempat jumpa teman lama. Pakaian,kendaraan, rumah, dan cara hidup pun menjadi berbeda dengan sebelum mendapatkan ta ini. Bahkan walau hanya suami atau istrinya yang mendapat ta, maka teman lama adalah kenangan, dan teman baru adalah sesama pejabat atau istri pejabat. Jangankan bertegusr sapa, seulas senyum pun terlupa untu teman lama. Dia bersantai ria menikmati ta pertama dan ta kedua di masa ta ketiga, bila hampir berakhir masa lima tahun, maka kembali berkunjung ke teman lama dan tersenyum di mana-mana untuk mendapat dukungan mendaptkan kembali ta ketiganya.

Ta ... Ta.... Ta.... menjadi fitnah dunia.

Rabu, 12 Februari 2014

Maaf, kata pasmina tidak ada dalam kamus!


Maaf, kata pasmina tidak ada dalam kamus!





59.Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya [1233] ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[1233] Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.
Surah: Al-Ahzab - Ayat: 59
Gara-gara lihat iklan jilbab di facebook, Penasaran kucari kata jilbab  di kamus. Dan kalimat itulah hasil pencariannya!

Di iklan jilbab itu berbunyi "jilbab model". Gambarnya jilbab polos dengan motif di tengah sedemikian rupa sehingga bagian dada menonjol seolah jilbab hanya sampai leher dan dadanya terbuka.
Kepenasaranku todak selesai sampai di situ, jadi ingin tahu isi perintah memakai jilbab di Alquran. Nah, ternyata jilbab harus diulurkan menutup kepala sampai dada!
Lalu .... Bagaimana dengan fenomena ini!
Model hijaber
Jilbab praktis untuk ke kantor
Jilbab praktis untuk remaja ....
Cara memakai jilbab persegi dan jilbab panjang ....
Yang terakhir mengingatkanku pada pasmina.
Sekarang ini banyak sekali orang ber"jilbab" berpindah menjadi  memakai pasmina. Tak masalah bila pasmina yang dipakai menutup dada, tapi yang terjadi adalah pasmina yang dipakai tidak menutup dada. Teringat di mekah, wanitanya memakai jilbab panjng seperti pasmina dari kain hitam. Terkaadng memang tidak menutup dada, terapi mereka menutup bahian muka dengan cadar yang menjuntai sampai menutupindada. Pakaian mereka oun memakai jugahnyang suoer hombrang dn hanya berwarna hitam! Tidak terlihat sama sekali lekuk tubuh atau dada yang membusung, karena jugah yang mereka pakai betul2 ukurannya besar sehingga dapat menutupi seluruh aurat.
Bagaimana dengan pasmina Indonesia. Warna bermacam-macam, bahan tipis, kurang lebar, kurang panjang,. Sehingga saat  dipakai  telinga, leher dan bahain tubuh atas membayang serta tidak menutup dada sama sekali!
Jadi mana pilihanmu? Jilbab atau Pasmina?

Feb 2014

Senin, 03 Februari 2014

ANDAI TIDAK ADA PERGESERAN MAKNA KATA



                Makna kata adalah makna yang terdapat dari sebuah kata. Ada makna denotatif, ada makna konotatif, ada makna leksikal, makna gramatikal dan makna idiomatik. Dalam pembelajaran bahasa, selain membahas tentang makna kata juga dibicarakan tentang pergeseran makna kata. Ada pergeseran kata meluas (generalisasi), menyempit (spesialisasi), memburuk (peyorasi), membaik (ameliorasi), asosiasi dan sinestesia.
                Tapi bukan itu yang akan dibahas dalam tulisan ini. Apa pengaruh pergeseran makna kata dalam kehidupan sesungguhnya? Apa benar pergeseran makna karena pemakainya? Atau karenan akibat pemakaiannya? Sebuah kata menjadi lebih baik atau lebih rendah nilainya karena pemakaiannya menempatkan menjadi lebih rendah atau lebih tinggi. Seorang suami berkata, “bini saya hamil.” Dianggap sangat tidak sopan. Padahal suami tersebut orang betawi. Dalam bahasa betawi mengatakan “bini gue” tidak bermakna merendahkan. Tetapi bila istrinya bukan orang betawi, tentu saja merasa direndahkan, merasa suaminya tidak sopan dan sebagainya. Nah, bahasa Indonesia bukan bahasa betawi, tetapi terkadang kata “bini” dijadikan contoh dalam pergeseran makna kata. Jadi siapa yang membuat kata “bini” menjadi lebih rendah dari kata istri? Tentu saja orang yang bukan orang berbahasa Betawi.
                Andai tidak ada pergeseran makna kata, berarti dunia pendidikan kita saat ini juga tidak akan menjadi secarut marut saat ini. Dahulu kata ulama dipakai untuk semua orang yang berpengetahuan luas, saat ini ulama hanya untuk orang yang luas pengetahuannya di bidang agama Islam saja. Yang luas pengetahuannya di bidang mesin disebut insinyur mesin, yang luas pengetahuannya di bidang akuntansi disebut akuntang, yang luas ilmunya di bidang ilmu jiwa disebut psikolog, dan lain-lain. Dan mereka memang hanya menguasai bidang ilmu tersebut.
                Begitu halnya di dunia pendidikan, makna guru (yang harus digugu dan ditiru) juga sudah bergeser. Dahulu guru sangat disegani. Bila bertemu di jalan, sengaja bersembunyi karena rasa segan. Bukan tidak mau menemani. Bila terpaksa harus bertemu, mengucapkan salam, berbicara dengan sopan, dan membantu yang sedang dilakukan guru, membawakan bawaannya, membantu menyapu bila guru edang menyapu atau mencuci piring, dan sebagainya. Guru bukan hanya untuk anaknya saja, tetapi juga guru bagi orang tua anak tersebut. Orang tua akan menghormati semua guru anaknya. Bila ada hal yang kurang meyakiankan, orang tua akan menghadap guru dan bertanya seraya berbaik sangka. Sang guru pun berusaha menjadi pribadi yang baik dan selalu menjadi contoh baik di sekolah, di keluarganya dan di masyarakat lingkungannya.Siswa dan orang tua, di mana pun menghadapi guru. Guru di mana pun tampil menjadi sosok yang dapat digugu dan ditiru.
                Sekarang? Guru hanya di sekolah bahkan di depan kelas saja! Siswa di luar sekolah, terkadang tidak menyapa, bahkan pura-pura tidak melihat. Bila di jalan, menghindar karena malas menyapa, saat di kendaraan tidak berusaha berhenti atau memperlahan kendaraan sekedar mengucapkan salam. Orang tua juga tidak menghargai guru ketika di luar lingkungan sekolah. Hal itu terkadang karena social ekonomi guru di bawah social ekonomi orang tua siswa.
Dahulu guru, walau ekonominya tidak sebaik orang tua siswa, tetap dihormati! Dahulu guru adalah seseorang yang juga memiliki pengetahuan luas, tempat semua orang bertanya. Guru menjadi orang terpercaya untuk menumahkan uneg-uneg saat kesulitan, tempat mencari perlindungan dari kesusahan, tempat bertnaya bila bermasalah dengan anak. Dan, guru dapat embantu segala permasalahan tersebut. Hal tersebut karena guru menjadi orang yang terpilih. Guru senantiasa menambah perbendaharaan imu dan kemampuannya. Guru senantiasa menjaga perilaku dan wibawanya. Maka guru-guru tersebut menjadi teladan untuk siswanya, orang tua siswa, dan masyarakat di lingkungannya.
Dapatkah kita masih mendapatkan rasa hormat siswa, orang tua dan masyarakat, kalau perilaku keseharian kita saja masih belum kita perbaiki. Bagaimana adab makan kita, salat kita, tilawah kita, pengetahuan kita, adab berbicara kita, kebersihan hati kita. Mungkin betul, di depan siswa kita sudah baik, di belakang siswa? Tetapkah kita menjadi pribadi guru atau guru sebagai pribadi?
Makna kata “guru”, hanya kita para guru yang akan menjaganya agar jangan bergeser menjadi menyempit atau menjadi rendah. Tugas kita bukan hanya mendidik siswa-siswa kita, tetapi menjadi peminpin. Pemimpin untuk diri kita sendiri, lalu keluarga kita, kemudian menjadi pemimpin di masyarakat. Menjadi pemipin maka kita akan menjadi guru yang memiliki kepribadian dan selalu digugu dan ditiru. Wallahu alam bishowab.

Depok, 3 Februari 2014

Minggu, 02 Februari 2014

CATATAN DARI SEBUAH RESEPSI



Makan tidak boleh sambil berdiri, berjalan maupun tengkurap, tetapi harus sambil duduk.
لاَ يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ (رواه مسلم عن أبى هريرة)
Janganlah ada salah seorang di antara kamu yang minum sambil berdiri. Barang siapa lupa, hendaklah menumpahkan apa yang diminumnya. (H.R. Muslim dari Abu Hurairah)

Sampai ke lokasi resepsi sebuah pernikahan bersamaan hanya lima menit dariundangan yang tercantum. Mengisi daftar tamu setelah dipersilahkan di tempat tamu wanita. Buku tamu ada di dua sisi, satu untuk tamu wanita dan datunya lagi untuk tamu pria. Saat menuju tempat mempelai sangat rapat dengan antrian. Butuh setengah jam untuk sampai di tempat tersebut. Di tempat makan juga seudah penuh dengan orang yang berkerumun antri engambil makanan. Beberapa orang berkumpul sedang menyantap makanan samba berdiri. Hanya sekilas terpikir, berdiri.
                Sesampainya di panggung tempat mempelai segera ucapan selamat kuucapkan. Berdiri di panggung  urutan pertama adalah ayah dari mempelai pertama, lalu ibu mempelai wanita, mempelai pria, mempelai wanita, ibu mempelai pria dan ayah mempelai pria. Ayah mempelai pertama adalah rekan kerja beberapa tahun lalu, ibu mempelai pertama adalah teman pengajian, mempelai wanita adalah muridku dan murid beberapa teman guru yang juga kulihat hadir. Turun dari panggung langsung tempat masuk ke buffet khusus {untuk “orang-orang tertentu” seperti pejabat, tokoh, dan orang yang dihormati oleh pihak pengundang. Terlihat seorang ustadz terkenal  sudah duduk di dalamnya. Seseorang yang kukenal bertugas mempersilahkan rang tertentu, menyapaku. Terlintas di benakku, aku termasuk “orang tertentu” tidak ya? Ha ha ha tentu saja tidak!
                Teman seperjalananku mengajak makan nasi yang kebetulan terhidang di tengah ruangan. Hidangan nasi ada dua di tengah dan pondokan makanan lainnya ada di kedua sisi, mungkin dengan makanan yang sama. Tujuannya adalah untuk dipisah antara pria dan wanita. Tapiiii …. Tak ditemukan pemisahan di resepsi tersebut. Pengantin pra dan wanita disbanding di depan. Maka undangan pun bercampur baur di dalamnya antra pria dan wanita. Seorang panitia wanita (berjilbab) bahkan bersalaman bersama tamu undangan pria, seperti layaknya pria wanita yang belum mengetahui adab Islam antara pria dan wanita …..
                Duluuuuu sekali, saat dakwah baru merebak membasahi bumi Indonesia. Seluruh pelaksanaan perniahan mulai dari taaruf sampai resepsi kental dengan adab-adab Islam. Saat akad pengantin wanita hanya bertemu setelah akad  selesai, saat resepsi dipisah antara mempelai pria dan wanita begitu pula undangannya. Tamu pria hanya bertemu mempelai pria dan tamu wanita bertemu mempelai wanita. Sehingga terjaga fitnah pandangan dari tamu pri ke mempelai wanita (yang didandani degan “cantik” (tabaruj, bahkan seringkali jilbab tidak menutup dada dan pakaian pengantin pun membentuk tubuh indah sang mempelai wanita.
Apa yang salah? Kenapa adat Islami itu berubah ….. dari cara resepsi sampai ke penyajian makanan. Beberapa orang yang tidak dapat kursi Nampak risih ketika makan, sementara kursi yang disediakan tidak memadai, sangat tidak memadai! Kursi jumlahnya hanya basa-basi. MUngkin ketika undangan kepada orang yang tidak mengenal Islam, pemandangan itu menjadi wajar. Tetapi … saya kenal betul bahwa pemeilik rsepsi adalah dari kalangan ustadz dan pemula dalam tarbiyah. Inibukan yang pertama, tetapi asngat sering …. Dan dikerjakan oleh irang-orang yang berlabel Ustadz. Sudah sangat parahkan tingkat ghazwul fikri? Atau memang ini pertanda …. Astaghfirullah.
Mengenai “orang tertentu” juga, yang termasuk di dalamnya adalah pejabat yang nota bene terkadang bukan ustadz, bukan pula guru. Puluhan orang guru yang hadir di undangan itu tidak ada yang dimasukkan ke Buffet khusus. Guru-guru sang mempelai saat sekolah dari TK sampai SMA,  bertebaran mencari tempat duduk untuk makan. Tak ada yang mempersilahkan untuk duduk di buffet karena bukan orang tertentu versi pemilik resepsi. Mengapa diundang gurunya, kalau tidak untuk dihormati. Atau karena “karakter” yang diberikan di sekolah tidak sampai untuk menghormati guru ketika ia sudah dewasa dan sudah menjadi mempelai (kuingat lagi, tidak semua) ada beberapa murid yang saat guru-gurunya hadir, dia minta di foto, mengucapkan terima kasih untuk kehadirannya dan mempersilahkan makan. Tapi memang tidak ada buffet khusus, semua undangan sama. Lalu kemana menguap ilmu yang sudah di peroleh bahwa resepsi harus islami, adab makan dan minum, hormat kepada guru, atau ini juga pertanda …. Astagfirullah.
Mungkin orang akan lebih senang dikatakan modrn daripada berpijak pada nilai-nilai Islam yang sudah baik? Atau … entahlah ….

Senin, 27 Januari 2014

CALISTUNG DI PAUD DAN TK

Jakarta, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Prof.Dr. Lidya Freyani Hawadi, Psikolog. Mengingatkan kepada para peserta Pekan Olah Raga dan Seni Nasional guru-guru Taman Kanak-kanak (TK), yang di selenggarakan Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI).
Agar tidak mewajibkan membaca, menulis dan berhitung (CALISTUNG) bagi peserta didiknya. Saat membuka acara Porseni Nasional IGTKI, di Aula Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah.
Menurut Dirjen, itu bukanlah tugas utama dari guru TK. Tetapi kewajiban bagi tenaga pengajar di tingkat Sekolah Dasar (SD). Dunia belajar mereka haruslah menyenangkan dan menggembirakan, jangan memberikan pengajaran yang membebankan ataupun tidak sesuai dengan usia mereka.
Dirjen PAUDNI berharap, dengan adanya porseni tingkat nasional untuk guru-guru TK. Bisa menjadi ajang yang tepat untuk meningkatkan semangat dan kerjasama, serta sebagai sarana bertukar pengalaman, guna mengembangkan pembelajaran kreatif bagi peserta didiknya nanti.
Porseni tersebut, dilangsungkan pada 29 November sampai dengan 3 Desember 2013, dan diikuti oleh ribuan peserta yang berasal dari IGTKI dari berbagai provinsi. Acara di muarakan di Taman Mini Indonesia (TMII), Jakarta (29/11). (M.Husnul Farizi/HK)